Monday, February 22, 2010

Gig Gossip: Akhirnya Konfirmasi Akan Datangnya Misfits


Mungkin pembaca blog ini banyak yang tidak tahu Misfits. Mereka adalah band punk lama yang sempat membesarkan nama Glen Danzig. Tidak tahu Danzig juga? Berarti kalian harus lebih banyak menggali katalog-katalog lama di mana musik sekarang ini berakar.

Misfits dikabarkan akan diusung oleh Solucites Entertainment di 10 April ini di Jakarta, lagi-lagi Jakarta. Nama Solucites boleh dijadikan sebagai jaminan. Mereka adalah promotor yang memegang teguh prinsip memuaskan dahaga komunitas rock dan metal Indonesia. Terbukti As I Lay Dying yang terdampar di Thailand tetap dapat mereka datangkan, dan Arch Enemy yang ternyata tidak menarik banyak penonton tetap berlangsung.

Walaupun sudah tidak ada Danzig di dalam band ini, Misfits tetaplah Misfits. Buat mereka yang old school akan mendapatkan kesempatan untuk mendengar nomor-nomor klasiknya secara langsung. Menurut artikel dari Rolling Stone Indonesia, harga tiketnya akan berkisar antara 150 sampai 175 ribu. Cukup murah untuk sebuah legenda horor punk. Dan kalian masih berharap untuk lebih murah lagi. Dasar serakah.

Old Skuller

Gig Gossip: Tidak Ada Taking Back Sunday di Bulan Maret Ini


Rekor Java Musikindo untuk menggelar konser sebanyak-banyaknya dari awal tahun sampai April 2010 sedikit terganggu. Taking Back Sunday, band yang sedianya akan menghentak panggung di Jakarta pada tanggal 3 Maret ini dikabarkan urung dilaksanakan.

Disebutkan di situs resmi Java Muskindo, bahwa terjadi penjadwalan ulang untuk mementaskan band ini. Tetapi kami tahu bahwa penjadwalan ulang adalah bahasa halus untuk tidak jadi. Karena berarti promotor harus mengulang pekerjaan dari awal lagi: mencari jadwal yang tepat, memesan venue, mempromosikannya dan menjual tiket. Apakh promotor rela untuk melakukan kerja ulang lagi untuk menjual band yang namanya tidak terlalu dikenal di sini. Well at least di kalangan teman sepergaulan kami di Live@Loud, band ini tidak terlalu berkibar namanya, dan ini bisa dijadikan sebagai barometer kami.

Biasanya urungnya suatu pertunjukan dibarengi dengan gosip latar belakang mengapa band yang diundang tidak jadi datang. Dalam kasus ini, kami menduga penjualan tiketnya tidak seperti yang diharapkan. Dari pada makin banyak ruginya, lebih baik dibatalkan saja. Di bulan Maret ini saja sudah ada dua band keren yang akan melangsungkan konsernya di Jakarta, yaitu Cobra Starship dan 311. Dengan dua band seperti ini di waktu yang berdekatan, siapa yang mau membeli tiket Taking Back Sunday?

Hip Master

Thursday, February 18, 2010

Daftar Penting Gak Penting Gitu Deeeh: Keanehan Pembuatan Sinetron


Sepengetahuan kami, sinetron bukan barang baru di dunia pertelevisian tanah air. Karena saking tinggi ratingnya, maka berbagai judul sinetron dimuntahkan dari rumah produksi memenuhi prime time. Namum kok rasanya produksi sinetron tidak pernah jauh-jauh dari era kelahirannya. Sementara di negeri seberang nan jauh di sana terjadi perombakan produksi televisi untuk mengikuti jaman. Sedangkan sinetron Indonesia begini-begini tetap mempertahankan kelasnya. Memegang kredo yang sulit untuk dilawan, kalau laku kenapa harus dirubah, berikut hal-hal yang selalu menyertai produksi pembuatan sinetron Indonesia. Tentunya yang kami anggap lucu-lucuan saja.

1. Berbicara dalam hati
Dua karakter yang salingbertukar dialog dan kemudian salah satu karakternya berbicara dalam hati. Kok ya karakter satunya nggak bengong lihat lawan bicaranya terdiam sambil senyum-senyum sendiri atau mata menyipit memicing?

2. Karakter memasuki frame
Sutradara sinetron siapa pun juga senang dengan gaya ini. Pengambilan gambar memperlihatkan frame kosong tanpa karekater dan sepersekian detik kemudian karakter mak bedunduk masuk ke frame. Kesannya seperti karakter kebetulan lewat dan pengin ngobrol.

3. Ngobrol berjauhan tapi tidak menarik urat leher
Dalam adegan ngobrol, para karakter tidak terlihat guyub. Bahkan mereka terkesan berada di jarak yang jauh-jauhan, tetapi mereka tidak perlu berteriak agar karakter lainnya bisa mendengar.

4. Latar musik mencekam tapi adegan tidak mencekam
Ini terjadi di sinetron yang isinya drama. Musik yang keluar adalah musik gaya horor untuk memperkuat kesan konflik yang membara. Sering juga dipakai saat karakter asik berbicara dalam hati.

5. Shot di muka satu per satu untuk memperpanjang durasi
Bayangkan ada sepuluh karakter dalam satu adegan. Salah satu karakternya mengungkapkan suatu rahasia yang membuat kaget sembilan karakter lainnya. Untuk memperpanjang durasi, dibuatlah shot muka masing-masing karakter satu persatu memperlihatkan kekagetan yang
teramat sangat, plus slow motion yang terpatah-patah.

Kalau dalam sepuluh tahun mendatang produksi sinetron masih sama dengan lima poin di atas, maka ini adalah bukti sahih dan kuat sinetron Indonesia malas untuk berkembang. Yang aneh adalah kita-kita ini yang masih menontonnya sambil geleng-geleng bingung.

Hip Master

Tayang Televisi: Momen Canggung - Memeluk Atau Tidak Memeluk


Dalam acara kontes-kontesan yang dikemas dalam format reality show, bisa ditemukan momen-momen canggung, di saat diumumkan bahwa peserta lolos menuju tahapan berikutnya. Termasuk di acara kontes berformat reality show terbesar di dunia, American Idol.

Perhatikan bagaimana peserta kaget dan reaksi berikutnya saat masih di dalam ruang juri. Mulut menganga dan raut wajah kaget gembira. Selanjutnya ada yang melonjak kegirangan atau diam terpaku masih terasa tidak percaya. Selanjutnya, masuk ke bagian canggung. Bagaimana cara melampiaskan kegembiraannya ke juri di hadapannya. Beberapa peserta ragu-ragu untuk sekedar bersalaman, tapi ini tidak kelihatan terlalu gembira, atau memeluk para juri, ini kelihatan lebih gembira. Di momen ini peserta merasa ragu-ragu, apakah dibolehkan untuk memeluk para juri, sementara rasa ragu-ragunya sudah berjalan tanggung dengan mencondongkn badan ke depan dan membuat gerakan tangan siap memeluk.

Para juri American Idol yang berpengalaman tahu persis momen canggung ini. Dengan baik hati, mereka mempersilakan peserta yang kegirangan untuk memeluk mereka, tentunya agar peserta tidak salah tingkah.

Dalam tayangan American Idol yang baru saja, ini terjadi di Casey James, saat dia tersedak kaget mendengar namanya masuk ke babak 24 besar. Sayang kami tidak bisa menemukan video yang memperlihatkan momen ini. Kalau ada tayang ulangnya silakan perhatikan. Juga perhatikan satu kaki Kara yang terangkat satu saat memeluk Casey James.

Not-so-pink Chick

Kolonel Sanders To The Rescue Musik Indonesia


Sebelumnya kami sudah memposting kandidat tokoh musik Indonesia tahun ini, yaitu Cinta Laura yang menyelamatkan muka industri tanah air dengan berhasil menjual 100 ribu copy albumnya hanya dalam waktu dua minggu sejak peluncurannya.

Kalau masih penasaran dan ragu-ragu ingin membeli album ini di gerai KFC, semua lagunya bisa di-stream di sini. Rasakan pengalaman album terpanas tahun ini, sepanas sajian ayam goreng yang baru saja diangkat dari penggorengan, yang bernuansa dance dan.....hmmm ya gitu deeeh.

Ingat musik Indonesia, ingat senyum Kolonel Sanders.

Not-so-pink Chick

Wednesday, February 17, 2010

Review Film: Rumah Dara


Teman menonton kami yang lemah jantung tidak bertahan lama di dalam bioskop gelap yang mencekam. Tepat setelah korban pertama dicacah-cacah oleh salah satu anggota keluarga haus darah, teman kami segara menuju pintu keluar dan tidak kembali lagi.

Layar besar diwarnai oleh darah yang terus menerus mengalir sampai puncaknya. Ini memang yang kami harapkan, dikepung oleh kengerian yang tiada hentinya saat aksi dimulai sampai credit title muncul.

Karakter Dara, yang menjadi kepala keluarga dari tiga anaknya yang sama haus darah, mengalami perombakan dibandingkan dengan penampilan pertamanya di salah satu film pendek di Faces Of Fear. Pakaian yang dikenakan Dara adalah jaket merah nenek-nenek yang menutupi terusan panjang putih. Sangat jaman dahulu sekali dibandingkan dengan penampilan perdana Dara yang berpakaian modern. Gaya berbicaranya juga berbeda. Jika sebelumnya Shareefa Danish tidak perlu bersusah payah mengganti nada suaranya, kini suara yang keluar dari mulut Dara terdengar rendah, berat, tegas dan tua. Semua ini memang ada alasannya untuk mendukung cerita yang tidak perlu rumit.

Dari awal penonton yang masuk sudah tahu bagaimana jalan ceritanya. Sekelompok orang terjebak dalam satu rumah yang penghuninya adalah keluarga brutal pembantai nyawa dan haus darah. Yang ditunggu adalah bagaimana satu persatu dari mereka menemui ajal dan siapa yang akan selamat dari maut. Di era film horor modern, bisa saja tokoh yang tidak kita perkirakan sebelumnya bisa lolos selamat atau bahkan tidak ada satu pun yang bernafas di akhir film. Yang membuat film ini semakin sakit, salah satu karakter yang terjebak di rumah kuno milik Dara adalah wanita yang sedang hamil tua.

Satu per satu alat pencabut nyawa dikeluarkan. Dari pisau tajam sederhana, clurit, sampai gergaji mesin. Ini menambah meriahnya pesta darah yang dihidangkan di depan mata secara gamblang. Model yang mirip dikemukakan oleh Hostel, tapi tidak seberani Hostel yang membuat perut mual.

Jalinan adegan dari satu adegan ke adegan berikutnya juga terasa masuk akal. Mereka yang sempat kabur dari rumah jagal itu, kemudian terjebak kembali dengan membawa sekelompok orang yang lain. Tambahan kelompok yang muncul belakangan menjadi klimaks dahsyat yang tidak pernah ada sebelumnya di kancah perfilman Indonesia.

Kehadiran Aming di sini menurut kami juga punya arti. Kemunculannya lebih seperti tribut bagi film horor Indonesia yang seringkali memunculkan sedikit banyolan di tengah kengerian.

Motovasi di belakang pembantaian juga dipaparkan secara pintar. Adegan pendek, kalimat pendek dan ornamen yang berada di rumah berdarah itu dapat menyampaikan, tanpa harus secara terang-terangan memberi penjelasan. Ini membuat film ini mencekam sekaligus pintar.

Seperti film horor lainnya, dan memang suatu keharusan, ujung film memberikan kesempatan untuk membuat sekuel berikutnya. Dalam film ini belum diceritakan siapa bapak dari anak-anak Dara yang dilatih untuk membunuh dari sejak kecil. Bisa saja di sekuelnya, Dara dan bapak dari anak-anak itu akan menjadi pasangan pembunuh. Tapi ini hanya imajinasi kami.

Setelah lusinan kuntilanak dan pocong, kini film Indonesia punya sosok ikonik yang bisa menjadi legenda. Rumah Dara bisa saja bukan film terlaris, tapi ini bisa menjadi film cult yang sebelumnya tidak pernah lahir dari insan film lokal. Budget yang tidak sebesar Hollywood sehingga membuat efek visualnya tidak wah dan sound editing tidak bergemerincing, justru membuat fim ini semakin layak menyandang status cult.

Semua yang ada di Rumah Dara punya momen untuk terus diingat. Karakter yang unik, cara kematian menjemput dan dialognya akan selalu bisa jadi bahan pembicaraan. Satu kalimat pendek dari dari Dara menjadi kutipan klasik tanpa perlu menunggu lebih lama lagi. "Enak Kan?!" Enak sekali menonton film horor yang mencekam.

Crew L@L

Layar Perak: Makin Banyak 3D Segera Keluar


Avatar telah mematahkan dominasi film 3D yang berbasis film animasi. Avatar telah menyajikan film dengan aktor sesungguhnya juga bisa menarik disajikan dalam format 3D. Sekarang ini, semua jalinan film 3D telah bertemu.

Teknologinya ada, penontonnya juga suka, industri film dan pengusaha bioskop juga mendukung. 3D menjadi inovasi setelah sekian lama film layar lebar miskin inovasi dan diserang produk bajakan.

Gairah untuk datang lagi ke bioskop muncul lagi karena 3D. Dan penonton rela membayar harga yang lebih mahal untuk itu.
Wajar saja jika penonton rela membayar lebih mahal untk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapat di rumahnya. Bioskop yang harus berinvestasi untuk membeli proyektor baru juga harus mendapatkan modalnya kembali dan menumpuk keuntungan lebih cepat. Industri juga menyukainya karena margin yang didapat lebih besar karena harga tiket lebih mahal.

Euphoria ini berlanjut ke rencana para pembuat film lainnya untuk men-3D-kan film-filmnya. Dalam waktu dekat Alice In Wonderland garapan si jenius sinting Tim Burton akan dirilis. Serta beberapa film lainnya, termasuk franchise yang sudah ngetop lebih dahulu seperti Pirates Of Carribean, Transformers dan saga Star Wars direncanakan akan dibuat dalam format 3D.


Kalau begini, siap-siap lebih sering memasang kacamata 3D di muka dan merogoh kantung lebih dalam.

Not-so-pink Chick

Cinta Laura Penyelamat Industri Musik Indonesia


Di tengah prahara yang melanda industri musik, tiba-tiba saja mencuat berita yang menarik. Album Cinta Laura yang diberi titel sama dengan namanya sendiri, dalam dua minggu tanggal edar berhasil mencapai penjualan 100.000 kopi. Kami percaya angka ini tidak dibuat-buat. Kalau KFC yang restoran ayam goreng cepat saji itu sendiri sebagai distributor dari album ini berani membuat berita seperti ini, dan dimuat oleh banyak media, berarti angka ini bukan main-main.

Angka 100.000 adalah angka yang besar di hari seperti ini. Mungkin ini sepadan dengan angka satu juta di hari bahagia. Apalagi kami tidak pernah mendengar acara peluncurannya. Ini seperti keajaiban musik Indonesia dan daya magis pemasaran.

Posting ini tidak akan membicarakan mengenai degradasi selera pasar Indonesia. Justru kami salut atas pencapaian ini. Kami lebih ingin membahas secara logika pemasaran bagaimana angka tersebut dapat tercapai.

1. KFC adalah kunci utama
Bagaimana bisa restoran ayam goreng cepat saji bisa menjual album musik sebanyak itu? Sebenarnya ada dua pertanyaan dalam satu kalimat pertanyaan panjang itu. Kami jawab dulu yang pertama. Kok bisa restoran jualan album musik? KFC hanyalah salah satunya. Starbucks, kedai kopi mahal yang rasanya tidak sebanding dengan harganya itu, juga jualan album musik di setiap counternya. Ada dua tujuan chain restoran ini menjual produk lain selain produk intinya. Pertama adalah memperbesar cakupan komunikasi merek dan kedua adalah memang menarik pendapatan dari produk lain ini.

Menjawab pertanyaan kedua yaotu bagaimana bisa sebanyak itu? Dengan jumlah toko kaset dan CD yang semakin menyusut, maka jumlah otlet KFC hampir bisa dipastikan jauh lebih banyak dari semua toko kaset dan CD di seantero Indonesia. Dari sini saja sudah terlihat jelas. Jalur distribusi yang lebih luas memperbesar kemungkinan untuk sebuah produk terjual lebih banyak. Di sini ada unsur kemudahan mendapatkan albumnya sebagai daya saing dengan album-album lain yang hanya dijual di otlet tradisional.

2. Para penjaja yang gigih
Pernah makan di KFC? Kalau pernah tentu pernah merasakan juga ditawari CD album musik tepat selagi kita menunggu pesanan datang dan sebelum membayar. Kalau semua orang yang berdiri di antrian seluruh KF ditawari, tentu saja di antara mereka ada yang membeli.

Di sini juga terjadi teori memperbesar peluang untuk meraih pendapatan maksimal. Ditambah dengan kegigihan penjaja setiap penunggu counter kasir KFC, teori ini mendapatkan daya lebih besar. Hal ini tidak pernah terjadi di toko kaset dan CD mana pun. Mana ada penjaga toko kaset dan CD menawarkan satu album tertentu ke setiap pengunjung tokonya.

Angka 100.000 ini membuktikan bahwa masih ada peluang besar di industri musik Indonesia. Yang diperlukan memang terobosan, terutama di jalur distribusi. Produk bajakan yang laku di pasaran, selain harganya yang lebih murah, juga menganut teori di atas, distribusi yang luas untuk memberi kemudahan konsumen mendapatkan produk.

Setelah industri di Amerika Serikat diselamatkan oleh Susan Boyle, Indonesia diselamatkan oleh Cinta Laura. Suka atau tidak suka.

Old Skuller
 

Copyight © 2009 Live@Loud. Created and designed by