Thursday, March 11, 2010

Gig Gossip: Lagi-lagi Bandung Seru Euy


Bertepatan pada tanggal 9-11 April, Lian Mipro yang sekarang lebih senang membuat eksibisi distro plus festival musik, menggelar acaranya di Bandung, pusatnya ladang distro tumbuh subur. Di tiga hari yang diharapkan akan bersinar cerah itu, bertempat di Monumen Perjuangan Bandung, 100 lebih merek clothing akan menjajakan jualannya, dan puluhan band akan tampil.

Untuk menyemarakkan suasana maka akan tampil band metalcore dari Jerman yang sebelumnya pernah menggemaparkan ibu kota. Caliban akan datang untuk kedua kalinya, kali ini Bandung adalah kota sasarannya.


Harga tiket juga jauh lebih murah dibandingkan harga tiket Caliban waktu menggempur Jakarta. Bahkan juga tetap lebih murah dibandingkan tiket The Misfits yang akan naik panggung di hari yang sama, tidak jauh dari sana di Jakarta. Cukup keluarkan 5 sampai 10 ribu, maka sudah bisa jalan-jalan lihat-lihat koleksi terbaru dari merek clothing ternama dan terhibur dengan dentuman keras band yang seakan tidak puas kalau penontonnya belum capek terduduk kelelahan.


Hip Master

Wednesday, March 10, 2010

Video Not Dead Yet: Kotak - Pelan-pelan Saja



Klip ini punya dua syarat utama dari video klip power ballad glam rock band. Syarat pertama, adegan band memainkan instrumennya dengan cool. Dan yang kedua, pengadeganan dramatisasi lirik lagu yang cheesy abis. Hasilnya tidak terlalu buruk, kalau dilihat dari sejarah video klip ben glam rock 80-an.

Waktunya pelajaran sejarah lewat YouTube. Ingat-ingat nama band glam rock yang sering disebut-sebut oleh para om. Ketikkan namanya dan voila, muncullah pria-pria gondrong menyanyikan cinta. Karena saking cheesynya, memebuat semuanya jadi lebih baik.

Old Skuller

Review Buku: The Lost Symbol


Seperti dua buku sebelumnya yang menempatkan Robert Langdon sebagai tokoh utama, perasaan ini terbius menjadi percaya saja dengan makna dari simbol-simbol yang berada di sekeliling kita sehari-hari. Kali ini Dan Brown yang makin piawai meramu thriller ke dalam lembaran bukunya membawa ke ranah yang lain, di luar agama, walaupun masih menyerempet sedikit banyak.

Robert Langdon kini harus terbang ke pusat pemerintahan Amerika Serikat, untuk memecahkan makna dari simbol yang tersembunyi di piramida Mason. Berkutat dengan sempitnya waktu, Langdon harus berhasil menemukan lokasi kata yang hilang, seperti yang ditunjukkan oleh piramida Mason, untuk menyelamatkan teman baiknya yang disandera oleh seorang maniak, digambarkan dengan bagus oleh Dan Brown.

Buku ini memiliki segala yang diperlukan untuk membuat film seru selama dua jam penuh. Sebut saja lika-liku pemecahan simbol, simbahan darah, tokoh villain sakit, tokoh utama yang selalu lolos dari maut dan twist di ujung cerita. Masih kurang, buku ini memasukkan beberapa merek untuk kemudian bisa dikutip menjadi sponsor saat fim dibuat, atau jangan-jangan mereka sudah membayar sejak buku ini ditulis.

Dan Brown masih mengambil elemen-elemen di buku sebelumnya dalam usaha Langdon memecahkan teka-teki. Untuk memecahkan teka-teki maka Langdon harus mengkorelasikannya dengan artefak atau karya seni lainnya. Ini membuat pemecahan teka-teki tidak bisa hanya mengandalkan satu artefak saja. Jalinan teka-teki yang runit membuat kita percaya dengan apa yang dituliskan oleh penulisnya.

Apalagi kita begitu sangat ingin membuka lembaran berikutnya untuk mengetahui apa yang terjadi. Kecepatan bertutur tanpa harus bertele-tele serta godaan untuk cepat-cepat mengetahui apa yang kemudian terjadi, membuat pembacanya melupakan lubang-lubang dalam plot.

Baru terpikir kemudian setelah buku selesai dibaca. Kalau kata yang hilang sebenarnya berada di sekitar kita tetapi sudah tidak lagi disadari, mengapa organisasi Mason harus bersusah-susah membuat peta yang dienkripsikan? Kalau memang berada di sekitar kita, mengapa harus susah payah dijaga?

Ini membawa pikiran ke film-film Indonesia yang sedang seru-serunya diproduksi. Begitu banyak orang yang menghujatnya karena plot buruk yang berlubang-lubang seperti jalanan Jakarta. Film-film Hollywood yang sering dijadikan patokan kebagusan juga penuh lubang, hanya saja mereka pintar meramunya. Beri ini, beri itu, maka perhatian penonton akan teralih melupakan cela. Buku yang dibuat pun sama saja. Tapi cukup terhibur kan saat membacanya?

Not-so-pink Chick

Layar Perak: The Hurt Locker Membawa Harapan


Akhirnya The Hurt Locker mengalahkan Avatar yang menghabiskan anggaran sampai berpuluh-puluh kali lipat dan pembuatan yang bertahun-tahun. Banyak orang bersorak, melihat kuda hitam benar-benar bisa menyalip di tikungan terakhir.

Agaknya panitia Oscar melakukan hal yang tepat. Walaupun setelah didapuk menjadi film terbaik tahun ini The Hurt Locker tidak akan dapat menaikkan pemasukan secara signifikan, bahkan seujung kuku dari Avatar, tetapi ini memberikan harapan.

Harapan bahwa film yang baik masih diperhatikan. Harapan bahwa film yang baik masih ditonton. Harapan bahwa film yang baik masih akan dibuat.

Hip Master

Wednesday, March 3, 2010

Video Not Dead Yet: Ke$ha - Blah Blah Blah ft. 3Oh!3



Nokia sepertinya tidak tahu kalau hasilnya akan seperti ini. Di tengah usahanya untuk mengejar ketinggalan dibandingkan merek smartphone lainnya yang sedang panas, investasi Nokia kali ini terlihat sia-sia.

Kalau ada yang menanyakan sudah nonton video klip Ke$ha terbaru yang bernuansa pesta, dengan dia melompat-lompat dan perubahan penampilannya? Kami akan jawab blah blah blah.

Not-so-pink Chick

Gempita Panggung: Satu Lagi Ide Brilian, Makan Minum Sepuasnya Buat Pemegang Tiket VIP


Masalah ini lebih sering muncul kala nonton festival. Masalah ini muncul kalau perut sudah minta diisi air dan benda padat yang bisa dikunyah setelah menghabiskan energi di depan panggung atau berdesakan mencari lokasi yang paling yahud buat nonton siapa yang di atas panggung.

Di tiket sudah tertera: dilarang membawa makanan dan minuman. Bagi yang ngotot untuk bawa barang haram ini ke dalam arena, mereka akan berhadapan dengan para jagal penyita di titik pemeriksaan badan. Hampir mirip seperti kita masuk bandara udara.

Perlakuan seperti ini diterapkan karena penyelenggara ingin memuaskan sponsor yang telah membayar cukup mahal untuk menjadi penyedia hajat hidup orang banyak di arena yang sesak dengan manusia kelaparan. Terjadilah monopoli. Harga makanan dan minuman diangkat setinggi-tingginya karena manusia-manusia di dalamnya tidak punya pilihan. Terjebak di arena festival selama berjam-jam, rasanya tidak mungkin kalau tidak makan dan minum. Mungkin mereka yang suka pingsan di acara seperti ini adalah mereka yang tidak siap membawa uang secukupnya untuk membeli asupan, alhasil pingsan lah jadinya.

Yang juga cukup menyebalkan adalah sudah bawa uang yang cukup tapi antrian panjang terjadi dalam rangka perebutan ransum. Biasanya ini terjadi setelah festival jalan cukup lama dan sudah masuk ke jam lapar. Kok ya kebetulan jam lapar ribuan orang bisa pas bareng waktunya.

Di antara mereka yang bersungut-sungut sambil mengantri pasti terdapat orang-orang yang punya duit lebih. Nah, dengan latar belakang permintaan dan penawaran ini, kami punya ide brilian. Selain menambah pemasukan dari special show, golongan yang ini juga bisa semakin dikuras uangnya. Tawarkan tiket VIP yang memberikan akses kepada mereka akan makanan dan minuman tanpa harus mengantri dan dapat dikonsumsi sepuasnya.

Bayangkan acara kawinan yang super duper ramai, sehingga antrian makanannya sampai mengular. Sementara di suatu sudut ruangan yang terbukauntuk dilihat oleh undangan tapi tidak bisa dimasuki, terdapat ruang makan untuk keluarga penganti. Di sudut ruangan ini, hanya segelintir orang yang bisa menikmati makan dan minum berlimpah seperti tak ada habisnya.

Tempatkan ruangan spesial ini di berdekatan dengan titik yang kemungkinan akan terjadi antrian panjang untuk membungkam lapar. Dipastikan orang-orang yang berada di ruang VIP itu akan berasa seperti di langit ketujuh, bisa ditonton oleh ribuan orang yang lain pula. Abadikan momen berharga ini dan upload segera ke Facebook dan Twitter.

Karena membayar lebih tiket VIP, maka perlakuan juga turut VIP. Dengan mengumpulkan pemegang tiket VIP di satu ruangan, makin kelihatan siapa saja yang VIP. Sudah beli tiket mahal-mahal kok orang yang laing tidak tahu. Rugi dong.

Not-so-pink Chick

Layar Perak: Kami Tunggu Killers


Puas nonton Rumah Dara. Tahun 2011 Mo Brothers akan memutar film sakit berkutnya bertajuk Killers. Begitu dong kalau mau promosi film. Satau tahun sebelum rilis resmi promo sudah jalan. Calon penonton dibuat penasaran setengah mati. Mereka diajak ikut serta menebak-nebak plot cerita dan menerka deretan kasting.

Script masih dibuat dan shooting akan dijalankan setelah kasting selesai. Satu tahun jadi terasa terlalu lama. Eh 2011nya kapan nih? Jangan-jangan akhir 2011. Kami tunggu!

Hip Master

Review Album: Creed - Full Circle


Band yang menjadi tonggak dari sejarah sound modern rock ini tidak pernah menjadi perhatian kami. Walaupun memiliki tiga album sebelumnya, tetapi peristiwa bubarnya Creed di tahun 2004 dan reuni lima tahun kemudian tetap tidak membuat saya lebih tertarik. Menjamurnya band-band modern rock juga tidak menjadi perhatian kami, karena menurut kami tidak ada pembeda di antara mereka. Ketika kami tidak tahu siapa yang didengar di radio, kami sulit untuk menerka siapa band modern rock ini yang sedang diputar. Berbeda ketika dengan cepat kami bisa mengira ini permainan gitar Eddie Van Halen, walaupun yang diputar adalah single baru yang belum pernah didengar sebelumnya.

Creed memiliki apa yang dimaui oleh anak muda pada era 1990-an saat awal mereka muncul, yaitu citra suara yang keras dan vocal kasar yang melodik. Mereka lebih keras daripada band glam dan jauh lebih lembek daripada band metal. Berada di antaranya membuat modern rock sempat masuk ke papan tangga lagu menggantikan sound alternatif.

Resep yang disajikan Creed dalam album reuni ini, Full Cirrcle, tidak berbeda dengan album-album sebelumnya. Creed punya intro dan rif yang menggebrak, serta punya verse, bridge dan chorus yang mudah ditangkap. Semua itu itu disajikn dalam satu menit pertama tiap lagunya. Sehingga total 12 lagu dalam album ini sebnarnya bisa disingkat menjadi 12 menit saja untuk mendapatkan esensi dari keseluruhan album.

Nomor seperti Rain memang enak didengar. Fear menghentak dan sempat mencuri perhatian. Tapi sekali lagi, seperti album-album sebelumnya, Creed tidak bsa menyalurkan energinya sampai ke kami. Creed punya segudang rif dan produksi bagus untuk membuat suara yang keluar seperti menghancurkan tulang, namun tidak pernah terdengar benar-benar punya jiwa.

Satu menit dari setiap lagi sudah cukup. Kami tidak tertarik untuk mengulang memutar album ini karena tidak ada rasa yang bisa membuat kangen atau kemudian tumbuh rasa suka. Kalau pun band ini bubar lagi, kami juga tidak terlalu peduli.

Old Skuller
 

Copyight © 2009 Live@Loud. Created and designed by