Showing posts with label Review Film. Show all posts
Showing posts with label Review Film. Show all posts

Friday, July 16, 2010

Review Film: Despicable Me


Di musim liburan ini saya berkesempatan untuk menonton dua film animasi yang sasaran pasarnya jelas, keluarga. Pertama adalah Toy Story 3 dan berikut Despicable Me. Keduanya berformat 3D. Bayangkan pemasukan yang didapat dengan tiket lebih mahal dan penonton lebih banyak.

Perkenalkan Gru, karakter utama yang kalau film ini laku maka akan dikebangkan di sekuel berikutnya. Diceritakan sebagai kriminal besar, Gru digambarkan sebagai sosok yang menyebalkan dan mengganggu. Tapi dalam film animasi yang ditonton semua umur, kriminal di sini bukan lah pembunuh berdarah dingin, melainkan seorang maling ulung yang menjarah ikon-ikon dari area tertentu.

Gru dihadapkan pada musuh utamanya Vector. Penyedia dananya, Bank of Evil yang sebelumnya dikenal sebagai Lehman Brothers (anak-anak mungkin tidak mengerti lelucon ini), tidak bersedia mendanai proyek berikut dari Gru yaitu mencuri bulan karena Gru dianggap sudah tidak mampu lagi. Tampuk penjahat besar kini digantikan Vector yang lebih muda.

Usaha saling membalas antara Gru dan Vector yang dieksploitasi untuk membuat format 3D menjadi lebih berguna. Moncong rudal yang meghadap di depan penonton serta kejar-kejaran di angkasa dirancang untuk memberikan efek 3D lebih terasa.

Di tengah persaingan antar maling itu muncul tiga gadis cilik yang diadopsi Gru untuk mengalahkan Vector. Seperti yang sdah diduga, ini adalah film semua umur, tiga gadis cilik yang tadinya dimanfaatkan oleh Gru kemudian berbalik tumbuh sayang di antara mereka.

Ceritanya sesederhana itu. Adegannya tidak ada yang benar-benar terobosan dan kejutan. Tapi setelah film berakhir, saya sadar saya menyukai film ini, walau pun bukan di level yang sangat-sangat suka. Adegan-adegan yang meloncat lincah serta karakter yang menggemaskan, ditambah dengan ratusan bahkan ribuan makhluk kuning mungil Minions, sudah mengikuti syarat yang harus ada di film animasi keluarga. Untuk menyukai suatu film tidak perlu cerita yang rumit, atau cerita sederhana yang dirumit-rumitkan, serta adegan terobosan.

Despicable Me bisa membuat saya tertawa bukan karena melihat adegan bodoh. Sebagai film animasi, Despicable sudah memenuhi kewajiban minimumnya.

Not-so-pink Chick

Thursday, July 1, 2010

Review Film: The Twilight Saga: Eclipse


Pergantian tampuk sutradara membawa secercah dan sediit peningkatan dibandingkan dua film sebelumnya. Adegan aksi mendapat durasi lebih banyak serta lebih panjang, sementara sutradara tetap bergelut dengan masalah adegan hubungan Edward dan Bella yang tidak menyakinkan. Karena Bella yang labil, ini menyebabkan saya yang duduk di bangku penonton tidak percaya kalau Bella mencintai Edward juga sekaligus mencintai Jacob.

Film Eclipse berpijak di dua tempat, satu kaki ingin memberikan ketegangan perkelahian mistis sedangkan kaki satunya lagi ingin mempertahankan romansa asmara. Adegan perkelahian mengalami peningkatan, tetapi adegan cinta melangkah di tempat. Kalau saja pemeran Edward dan Bella bisa diganti, mereka sebaiknya diganti. Karena tidak bisa diganti, mungkin diperlukan seorang sutradara bertangan besi atau produser seperti Les Grossman untuk membuat mereka lebih terlihat saling mendambakan satu sama lain di layar.

Adegan berdua antara vampir dan manusia ini seakan menjadi siksaan dan membuat saya ingin buru-buru mengetahui bagaimana kelanjutan sekumpulan vampir baru melawan keluarga Cullen yang kini dibantu pakta serigala. Bahkan saat Edward melamar Bella, saya tidak merasakan apa-apa dan tidak berharap nantinya akan dilamar oleh vampir.

Yang lebih menarik dari film sebelumnya adalah justru saat ketiga tautan cinta segitiga bertemu dalam satu adegan. Dengan banyaknya gurauan yang mengarah ke cercaan di Internet, Edward berkomentar apakah Jacob tidak punya baju, dan di adegan yang lain Jacob membalasnya kalau dia lebih 'panas' daripada Edward.

Akhirnya Eclipse menuntaskan plot dendam Victoria terhadap Bella dan menyusun kelanjutan bahwa di sekuel berikutnya keluarga Cullen akan menghadapi tantangan dari Volturi. Sejauh ini, Eclipse adalah yang terbaik dibandingkan dua film sebelumnya. Tapi masih belum bisa memuaskan karena terlalu sibuk untuk membahagiakan para perempuan yang menahan nafas saat melihat badan indah Jacob. Begitu sibuknya sampai saya baru sadar juga sampai film berakhir, gerhananya mana ya?

Not-so-pink Chick

Monday, June 28, 2010

Review Film: Toy Story 3


Semenjak penampilan pertamanya hampir empat belas tahun yang lalu, langkah apa yang dibuat kreator Toy Story untuk membuat sekuel ketiga tetap memiliki ikatan dengan penonton versi orisinilnya sekaligus menarik untuk penonton baru? Sebagai film yang memiliki jejak sejarah, sebagai film layar lebar pertama keluaran Pixar dan film pertama yang sepenuhnya memakai teknologi CGI dalam pembuatan, pencipta Toy Story seprtinya tidak ingin buru-buru membuat sekuel ketiganya hanya untuk agar sekedar ada. Mereka perlu menunggu sepuluh tahun setelah sekuel keduanya untuk meramu skenario yang mengguncang ulu hati.

Karena jariaknya puluhan tahun, maka adalah pilihan yang logis untuk menceritakan Andy, sebagai pemilik mainan, tumbuh dewasa bersiap pindah tempat tidur ke perguruan tinggi. Mainan kesayangan Andy harus menerima nasib, teronggok tersimpan di loteng atau disumbangkan ke panti penitipan anak. Karena suatu kesalahpahaman, Woody dan teman-teman terdampar di panti penitipan anak yang dari permukaan terlihat seperti surga bagi mainan tapi sebenarnya dikuasai oleh kediktatoran Lutso, boneka beruang beraroma stroberi.

Sepertiga terahir film ini menjadi menarik kala keluarga mainan Andy harus bekerja sama untuk keluar dari penjara kungkungan Lotso dan kembali ke rumah Andy sebelum Andy berangkat ke perguruan tinggi. Tensi meningkat cepat membuat serial Prison Break terlihat seperti kawanan manja yang tidak mampu berpikir keras dengan segala kegagalan di usaha awalnya.

Sebagai film ketiga, Toy Story 3 memiliki kejutan di akhir film yang membuat semua rangkaian penokohan terjalin rapi. Sebagai film dari Disney, akhir film harus dibuat bahagia, Andy bahagia serta mainannya pun ikut bahagia. Toy Story 3 memenuhi tugasnya sebagai film penutup dan saya tersenyum puas karena penulis skenarionya berusaha keras untuk mempertahankan roh dari Toy Story yang membuat saya juga suka dengan versi orisinilnya. Jangan sampai ada Toy Story 4.

Not-so-pink Chick

Tuesday, June 22, 2010

Review Film: Sex And The City 2


Buat banyak perempuan, sekuel film dari Sex And The City adalah sebuah perayaan yang ditunggu-tunggu. Perayaan kemewahan, fashionista dan cinta (dalam segala bentuknya), tapi itu bukan saya.

Bersiap datang ke bioskop untuk kecewa, saya ikut saja dengan teman perempuan saya menonton film ini. Teman saya terlihat menikmati pemandangan di layar, sedangkan saya berusaha keras menahan diri melihat penuturan yang terbata-bata, bahkan terlalu panjang untuk durasi hampir dua jam.

Sex And The City 2 adalah sekuel yang tidak diperlukan. Pada awalnya, film pertamanya pun juga bukan sesuatu yang diperlukan. Seharusnya serial ini selesai ditutup di layar televisi saja.

Empat wanita dengan problem masing-masing yang juga sebenarnya bukan problem yang penting-penting amat untuk dibahas apalagi sampai diangkat ke layar lebar, tapi menjadi obrolan yang menyenangkan pada saat teman-teman perempuan berkumpul. Mendengarkan argumen mereka seperti mengikuti kelas sekolah yang gurunya sedang diganti oleh seorang selebriti.

Film ini terasa seperti dipaksakan untuk ada, karena bahkan tanpa penonton pun, film ini sudah menghasilkan keuntungan. Lihat saja rentetan produk tidak ada henti yang muncul silih berganti. Mulai dari Mercedes, Maybach, Hewlett-Packard dan tentu merek fashion termasuk Christian, Dior, Luis Vuitton dan Birkin. Sex And The City adalah iklan berdurasi panjang dan kita membayarnya untuk menonton iklan.

Buat teman perempuan saya, merek-merek itu memang seharusnya ada di film ini. Dan merek-merek ini yang dicari agar mimpi tervisualisasi. Bagi saya, ini adalah iklan.

Not-so-pink Chick

Friday, May 7, 2010

Review Film: Iron Man 2


Buat para penggila komik, khususnya komik dari Marvel, Iron Man 2 adalah suntikan ekstasi yang kelebihan dosis. Tidak cuma ada Iron Man-nya sendiri dengan villain. Tetapi juga dimasukkan tokoh yang lain, termasuk dari SHIELD yaitu Nick Fury dan Black Widow. Menambah kegembiraan, di episode ini juga telah lahir War Machine. Semakin menyenangkan untuk ditonton karena porsi mereka diramu dengan pas sehingga tidak terkesan dipaksakan.

Buat yang tidak pernah menyentuh komiknya, perlu seseorang di sebelahnya untuk memberikan informasi siapa saja tokoh-tokoh ini. Karena beberapa tokoh terkesan muncul secara tiba-tiba. Padahal kalau jeli, mereka sebenarnya sudah muncul di episode Iron Man yang pertama dan juga di beberapa film Marvel lainnya. Tapi untuk yang tidak peduli dengan komiknya, masih ada jalinan cerita yang menarik dan adegan bak bik buk jedar jeder bum yang seru.

Singkatnya Tony Stark mendapat tekanan dari pemerintah untuk menyerahkan jubah besinya, sementara pesaingnya dari Hammer Industry berusaha membuat barang yang serupa, dan muncul Whiplash (nama ini tidak penah muncul dalam film) yang mengancam nyawa. Selain itu, Tony Stark sedang sekarat karena keracunan paladium, elemen yang menyangga hidupnya. Karena itu dia harus mencari elemen baru untuk bertahan hidup, di sini SHIELD datang membantu.

Phew lumayan untuk sebuah cerita super hero. Harus diakui skenarionya dapat memunculkan kalimat-kalimat cerdas yang hanya Tony Stark yang pantas mengutarakannya. Skenario juga dengan cerdik menyusupkan kemungkinan-kemungkinan kemunculan Iron Man 3, dan tidak hanya itu saja. Penggemar komik Marvel pasti sudah berharap sekaligus merinding pantatnya membayangkan akan ada film berikutnya yang akan memberi porsi kemunculan tokoh Marvel yang baru. Tanda-tanda itu sudah tersebar bahkan sampai penghujung film.

Diperkirakan akan tayang Captain America dan Thor, dan kalau melihat gelagatnya, The Avengers juga akan segera diproduksi. Ini memperlihatkan Marvel dengan teliti sudah menyiapkan rentetan kemunculan tokohnya di layar lebar.

Kembali ke Iron Man 2, adegan-adegan yang muncul dibuat seefisien mungkin sehingga tidak ada yang tersia-sia. Setiap adegan memiliki kekuatan untuk mendukung karakter tiap tokoh dan juga memberikan penjelasan akan adegan selanjutnya.

Adegan puncaknya, yang seharusnya menjadi puncak, yaitu pertempuran habis-habisan antara Iron Man yang berpartner dengan War Machine melawan Whiplash seakan menjadi tidak terlalu penting lagi untuk diulur-ulur waktnya agar kelihatan lebih seru. Karena dari awal sampai akhir, Iron Man 2 adalah satu rangkaian gerbong yang setiap gerbongnya memiliki klimaks. Klimaks yang bertubi-tubi itu dikemas dengan apik, sekaligus masih mengikuti kaidah komersial, sehingga menontonnya terpuaskan dengan fantasi komiknya.

Old Skuller

Tuesday, May 4, 2010

Review Film: Date Night


Beginikah rasanya kalau nanti sudah berkeluarga cukup lama? Terjebak dalam rutinitas, tidak ada lagi muka cerah, selalu kelelahan, serba membosankan sehingga harus memutar otak untuk membuat hari lebih bersemangat. Kalau benar begitu, pasti banyak sekali pasangan yang tertonjok ulu hatinya saat menonton film ini dan menyangkal untuk mengakuinya kesamaan pengalaman. Dan begitu sulitnyakah untuk menjadi menjadi pasangan suami istri?

Pesan itu begitu gamblang dipaparkan di atas layar lebar di film Date Night yang diperankan oleh Steve Carell dan Tina Fey. Mereka adalah pasangan, yang seperti banyak keluarga lainnya, sedang merasa bosan dan menyangkal kebosanan itu. Untuk mengusir kebosanan, mereka berusaha keras dengan salah satu caranya adalah keluar meninggalkan anak-anaknya di rumah dengan baby sitter, untuk melakukan rutinitas malam kencan yang lama-lama juga menjadi sesuatu yang rutin. Sampai di salah satu malam kencan, mereka harus berhadapan dengan mafia. Selanjutnya adalah pameran adegan lucu di tengah kejar-kejaran yang menuju puncaknya mengumpulkan semua pihak yang menginginkan dokumen yang tersimpan di dalam flash disk.

Jebolan Saturday Night Live sekali lagi membuktikan kecerdasan mereka dalam menyajikan komedi. Tidak hanya komedi dalam konteks visual saja, kata-kata yang meluncur adalah sajian penghangat telinga yang enak didengar untuk kemudian ditertawakan. Perhatikan bagaimana pasangan ini bermain role playing di restaurant mencoba menertawakan pasangan lain yang juga sedang makan. Dan juga kalimat pintar di tengah ketegangan dikejar-kejar mafia.

Banyak adegan terasa berlebihan dan mematahkan logika. Tapi semuanya bisa terlewat begitu saja tanpa perlu dipikirkan lebih lanjut, karena ini adalah komedi dengan porsi hiburan yang besar. Dari awal, film ini memang tidak berniat untuk mengikuti logika dan membuat sesuatu yang masuk akal.

Tidak setiap hari Hollywood mengeluarkan film seperti Date Night ini. Ada pesan yang disampaikan tanpa harus menggurui bahkan tidak kemudian dibicarakan dengan pasangannya malah dijadikan sebagai bahan kontemplasi. Ah...mungkin saya terlalu berlebihan. Nikmati saja hiburan ini, karena film ini benar-benar menghibur.

Not-so-pink Chick

Monday, March 1, 2010

Review Film: Up In The Air


Sudah terlalu lama kami terperosok ke dalam liang gelap tak berujung yang berisikan skenario film ya gitu deh dan pengadeganan yang dilebih-lebihkan sehingga terkesan wah. Sampai kami terantuk oleh Up In The Air yang memberi kami kesadaran.

Film dengan gambar yang biasa saja tanpa berusaha melebih-lebihkan ini membenturkan kepala kami ke kenyataan, menjadi dewasa sucks. Terlalu banyak yang dipikirkan sehingga kenyataan manis di ujung hidungnya tidak bisa tercium dan terlalu banyak beban keuangan yang harus ditangung hampir seumur hidup untuk kenyamanan tidur di bawah atap.

Ryan Bingham adalah konsultan pemecat karyawan yang mendapatkan keuntungan dari kondisi kemerosotan ekonomi. Tiap harinya dia terbang dari satu lokasi ke lokasi lain untuk memberikan kabar buruk bagi karyawan. Dia terlalu banyak berpikir, terlalu banyak berencana sekaligus takut menghadapi masa depannya yang sebenarnya cukup jelas. Dengan mempertahankan gaya hidup berpindah-pindah lokasi, hari tuanya akan kesepian. Teman wanita yang ditemuinya saat bersilangan jadwal juga diperlakukan sebagai teman biasa yang tidak ada ikatan.

Di sisi lain tempat duduk saat Ryan mengerjakan tugasnya adalah mereka yang kebingungan bagaimana akan meneruskan hidupnya setelah tidak lagi punya pekerjaan. Tunggakan yang menumpuk akan menghantam mereka menghancurkan hidup.

Dua hal ini yang mencuat di Up In The Air, selain George Clooney yang merajalela memenuhi layar. Secara amat perlahan, penonton dibuat kecut karena film ini menggambarkan ketakutan mereka sendiri secara gamblang. Tanpa harus dibuat menjadi puitis. Beginilah kehidupan. Pilih dengan benar. Wow menjadi dewasa terasa sangat berat.

Walaupun tawa kecil seringkali muncul, tapi tawa yang muncul adalah menertawakan diri kita sendiri. Terasa getir.

Penyajian gambar yang biasa saja membuat penonton semakin ketakutan. Pesan yang disampaikan untuk memilih cinta dan pekerjaan adalah kenyamanan semu terasa mengedor jiwa. Ini hidup mereka sendiri yang terpampang di depan layar dan sekelilingnya gelap.

Satu setengah jam menuju puncak terasa cukup lama. Pada saat penonton ketakutan karena melihat tidak ada solusi, secercah harapan muncul di ujung sana. Hebatnya film ini tidak memberikan apa yang penonton mau. Kalau saja penonton mendapatkan keinginan mereka, niscaya film ini akan menjadi salah satu dari deretan film biasa yang lain.

Up In The Air menjadi tidak biasa karena peringatannya sangat keras membuat kita untuk terbangun dari tidur panjang. Film yang pasti akan kami tinggal dalam 15 menit pertama kalau ditonton lewat DVD ini sayang untuk tidak diteruskan sampai akhir. Karena di ujung film, justru kita mendapatkan banyak bahan untuk dibicarakan setelahnya. Termasuk betapa senangnya kami punya Live@Loud yang tidak bisa memecat kami sendiri.

Not-so-pink Chick

Monday, February 22, 2010

Review Film: From Paris With Love


Jangan tertipu dengan judulnya. Lihat saja posternya, ini adalah film aksi yang mengambil lokasi di Paris. Jangan juga tertipu dengan trailernya. Ternyata ini bukan film aksi komedi seperti Rush Hour yang memasangkan Jackie Chan dengan Chris Tucker. From Paris With Love memasangkan John Travolta dengan Jonathan Rhys Meyers, duet aksi spionase yang bermuatan baku hantam dan muntahan peluru. Aksi yang padat hanya memberi kesempatan penontonnya untuk tersenyum kecil, serta harus mencermati dialog untuk dapat mengerti hubungan dari satu adegan ke adegan lainnya.

Tiba-tiba saja James Reece yang diperankan oleh Meyers mendapatkan promosi sebagai agen lapangan dan tugas pertamanya adalah mendampingi Charlie Wax, agen lapangan urakan yang diperankan oleh Travolta. Tanpa mendapat brief lebih dalam, Reece mengalir saja mengikuti sepak terjang Wax membantai mafia pengedar narkotika yang kemudian malah berujung ke aksi terorisme yang hendak membunuh delegasi Afrika yang berkunjung ke Perancis.

Karena berdurasi pendek sekitar 90 menitan, maka lupakan detil-detil yang menggelitik seperti film-film spionase lainnya. Yang dijual di film ini adalah aksi dengan twist di tengahnya. Setelah menonton aksi tembak menembak dan kejar-kejaran akhirnya penonton dapat bernafas sebentar yang mengantarkannya ke twist yang membuat film sedikit lebih menarik.

Sebagai agen mata-mata, pasangan ini harus membuat keputusan secepatnya. Tidak ada tempat bagi pergumulan batin, karena akibatnya bisa-bisa nyawa melayang duluan dihantam peluru musuh.

Film spionase tentu harus menghidangkan sesuatu yang mengejutkan. Kejutan itu datang dari dialog-dialog pendek yang diluncurkan Wax seakan mengajari Reece akan caranya bertindak di lapangan. Satu titik akan menghubungkan ke titik yang lain, sampai ke titik yang berada di lingkungan sekitarnya sendiri tanpa disangka-sangka.

From Paris With Love mempunyai semua yang diharapkan dari film spionase. Aksinya sendiri, plot yang membelok tiba-tiba dan tentu saja perempuan yang kali ini tidak hanya dipasang sebagai pemanis.

Sayangnya tidak ada sesutu yang baru di film ini. Tidak ada hal yang mengguncang otak karena pada akhirnya ini hanyalah salah satu aksi terorisme yang lain. Tidak ada moral yang mengguncang jiwa untuk kemudian kita bahas sekeluar dari bioskop. Hasilnya, kami lebih banyak menikmati aksinya, walaupun lagi-lagi bukan barang baru, dan pulang tanpa membawa apa pun. Bahkan karena dibombardir dengan adegan aksi tanpa henti, kami baru sadar sedikit sekali potret Paris yang indah digunakan di film ini. Lalu apa gunanya diberi judul From Paris With Love? Karena ada kata Paris di situ, seharusnya kami diberi lebih banyak wajah Paris.

Hip Master

Wednesday, February 17, 2010

Review Film: Rumah Dara


Teman menonton kami yang lemah jantung tidak bertahan lama di dalam bioskop gelap yang mencekam. Tepat setelah korban pertama dicacah-cacah oleh salah satu anggota keluarga haus darah, teman kami segara menuju pintu keluar dan tidak kembali lagi.

Layar besar diwarnai oleh darah yang terus menerus mengalir sampai puncaknya. Ini memang yang kami harapkan, dikepung oleh kengerian yang tiada hentinya saat aksi dimulai sampai credit title muncul.

Karakter Dara, yang menjadi kepala keluarga dari tiga anaknya yang sama haus darah, mengalami perombakan dibandingkan dengan penampilan pertamanya di salah satu film pendek di Faces Of Fear. Pakaian yang dikenakan Dara adalah jaket merah nenek-nenek yang menutupi terusan panjang putih. Sangat jaman dahulu sekali dibandingkan dengan penampilan perdana Dara yang berpakaian modern. Gaya berbicaranya juga berbeda. Jika sebelumnya Shareefa Danish tidak perlu bersusah payah mengganti nada suaranya, kini suara yang keluar dari mulut Dara terdengar rendah, berat, tegas dan tua. Semua ini memang ada alasannya untuk mendukung cerita yang tidak perlu rumit.

Dari awal penonton yang masuk sudah tahu bagaimana jalan ceritanya. Sekelompok orang terjebak dalam satu rumah yang penghuninya adalah keluarga brutal pembantai nyawa dan haus darah. Yang ditunggu adalah bagaimana satu persatu dari mereka menemui ajal dan siapa yang akan selamat dari maut. Di era film horor modern, bisa saja tokoh yang tidak kita perkirakan sebelumnya bisa lolos selamat atau bahkan tidak ada satu pun yang bernafas di akhir film. Yang membuat film ini semakin sakit, salah satu karakter yang terjebak di rumah kuno milik Dara adalah wanita yang sedang hamil tua.

Satu per satu alat pencabut nyawa dikeluarkan. Dari pisau tajam sederhana, clurit, sampai gergaji mesin. Ini menambah meriahnya pesta darah yang dihidangkan di depan mata secara gamblang. Model yang mirip dikemukakan oleh Hostel, tapi tidak seberani Hostel yang membuat perut mual.

Jalinan adegan dari satu adegan ke adegan berikutnya juga terasa masuk akal. Mereka yang sempat kabur dari rumah jagal itu, kemudian terjebak kembali dengan membawa sekelompok orang yang lain. Tambahan kelompok yang muncul belakangan menjadi klimaks dahsyat yang tidak pernah ada sebelumnya di kancah perfilman Indonesia.

Kehadiran Aming di sini menurut kami juga punya arti. Kemunculannya lebih seperti tribut bagi film horor Indonesia yang seringkali memunculkan sedikit banyolan di tengah kengerian.

Motovasi di belakang pembantaian juga dipaparkan secara pintar. Adegan pendek, kalimat pendek dan ornamen yang berada di rumah berdarah itu dapat menyampaikan, tanpa harus secara terang-terangan memberi penjelasan. Ini membuat film ini mencekam sekaligus pintar.

Seperti film horor lainnya, dan memang suatu keharusan, ujung film memberikan kesempatan untuk membuat sekuel berikutnya. Dalam film ini belum diceritakan siapa bapak dari anak-anak Dara yang dilatih untuk membunuh dari sejak kecil. Bisa saja di sekuelnya, Dara dan bapak dari anak-anak itu akan menjadi pasangan pembunuh. Tapi ini hanya imajinasi kami.

Setelah lusinan kuntilanak dan pocong, kini film Indonesia punya sosok ikonik yang bisa menjadi legenda. Rumah Dara bisa saja bukan film terlaris, tapi ini bisa menjadi film cult yang sebelumnya tidak pernah lahir dari insan film lokal. Budget yang tidak sebesar Hollywood sehingga membuat efek visualnya tidak wah dan sound editing tidak bergemerincing, justru membuat fim ini semakin layak menyandang status cult.

Semua yang ada di Rumah Dara punya momen untuk terus diingat. Karakter yang unik, cara kematian menjemput dan dialognya akan selalu bisa jadi bahan pembicaraan. Satu kalimat pendek dari dari Dara menjadi kutipan klasik tanpa perlu menunggu lebih lama lagi. "Enak Kan?!" Enak sekali menonton film horor yang mencekam.

Crew L@L

Wednesday, January 13, 2010

Review Film - Avatar


Mendapatkan tiket Avatar cukup sulit, apalagi kami ngotot untuk menonton format 3D. Kengototan kami membuat peluang semakin kecil karena bioskop yang menyediakan format 3D jauh lebih sedikit. Pernah kami sudah mengantri cukup panjang, dan ketika sudah berada di depan mbak penjual tiket, kami mendapati semua kursi sudah penuh dan ditawarkan untuk jam pertunjukan berikutnya. Karena kami malas berlama-lama dalam mal karena dapat memperuncing kecenderungan kami untuk lebih banyak berbelanja, maka kami segera tarik undur pulang.

Sampai perjuangan dan doa kami terjawab. Pada suatu hari yang cukup cerah, di suatu mal terbesar di Jakarta, kami sampai lagi di depan mbak penjual tiket. Layar komputer menunjukkan kursi yang tersisa hanya tinggal yang terdepan. Karena perjuangan kami sudah pada puncaknya, maka kami nekad saja mengambil baris terdepan menghadapi layar besar.

Walhasil, pada menit-menit pertama kami sempat pusing melihat gambar yang bermunculan keluar dari layar. Setelah mata beradaptasi, baru kami bisa lebih menikmati layar besar terbentang di depan.

Untuk lebih mempersingkat panjang posting ini, maka kami melewatkan bagian cerita. Seperti kami duga sebelumnya, cerita yang diusung Avatar ya gitu deh. Bumi kehabisan sumber energi, dengan ketamakannya menginvasi planet lain untuk mencari sumber energi, dan jagoan kita yang berpindah sisi membela kaum Na'vi bukanlah cerita revolusioner, serevolusioner teknologi yang dipakai James Cameron dalam mewujudkan mimpinya.

Para pecinta efek spesial akan mengalami mimpi basah berulang-ulang tanpa harus tidur saat melihat alam rekaan sutradara Aliens ini. Para penggemar aksi juga tidak akan melepaskan matanya dari layar menonton perang kaum Na'vi Vs manusia.

Di antara cerita yang begitu-begitu saja dan efek spesial yang mewah, terdapat James Cameron yang dengan rapi menuturkan ceritanya. Kami begitu gampang menurut dibawa alur cerita perjalanan Jack Sully ke planet Pandora sampai kami merasa proses adaptasi Jack Sully menjadi kaum Na'vi terlalu panjang dan kami tersadar, ceritanya gini aja nih. Tapi James Cameron sangat pintar membawakannya. Segala yang berada di layar adalah orkestrasi yang telah diperhitungkan dengan detil sebelumnya.

Alam plant Pandora yang seakan-akan dapat kami raih dengan tangan, membuat kami terbuai. Kami benar-benar merasa di dalamnya. Efek spesial di sini melenting ke tahapan yang selanjutnya, yaitu menciptakan realitas virtual, yang hanya bisa dinikmati dalam format 3D. Efek spesial bukan lagi menjadi sekedar jualan kemewahan tapi sudah menyatu dalam filmnya.

Ada untungnya menonton di barisan terdepan. Kami merasa sangat dekat dengan alam fantasi yang menghabiskan ratusan juta dolar dalam pembuatan. Bahkan ketika sudut pandang diambil dari balik kaca helikopter atau di balik helm penyangga dara, kami benar-benar merasa di dalamnya. Untuk menggambarkan betapa kami terbawa dalam dunia Avatar, kami sempat terpekik kaget ketika satu buah granat meluncur keluar layar.

Dengan segala kelebihan untuk menutupi kelemahan, yang kami juga menjadi memaafkan kelemahan tersebut, Avatar bukanlah film terbaik sepanjang jaman, bahkan bukan yang terbaik di tahun 2009. Tapi jelas Avatar masuk ke dalam deretan film yang memancangkan tonggak sejarah, karena terobosan teknologinya membuat kami merasa segan untuk menonton film berformat 2D. 3D adalah masa depan, dan ini dipastikan lewat Avatar.

Not-so-pink Chick

Monday, December 7, 2009

Review Film: New Moon


Akhirnya kami menonton juga film terheboh tahun ini yang membuat banyak perempuan tercekat menahan nafas ketika Jacob memperlihatkan badan tatahan dewanya serta perut dan dada Edward yang pucat kering kerempeng. Jangan salahkan sutrada karena badan Edward yang kekasih abadi dari Isabella Swan tidak memiliki badan sesempurna Jacob. Ingat, Edward sebelum berubah menjadi vampir adalah manusia biasa yang hampir mati terkena penyakit.

Tentu sudah banyak yang menonton film dan buku New Moon, karena itu kami tidak mau berlelah-lelah untuk menulis ulang apa yan banyak ditulis dalam sinopsis. Posting ini akan lebih banyak kepada pengalaman kami menontonnya, apalagi kami belum ada yang membaca buku asal muasalnya. Jadi ini adalah sepenuhnya apa yang kami pikir dalam film itu dan kemungkinan lompatan ke film berikutnya.

Sekuel kedua ini bisa jadi periode paling lemah di antara ekspektasi tinggi yang dihantarkan di film pertama menuju periode yang lebih kompleks dan gelap. Sebagai film masa transisi, justru film ini berhasil memberi jembatan untuk memberi rasa penasaran di penghujung filmnya. Tidak seperti film pertama yang tidak memberikan ekspektasi apa-apa di akhir durasi.

Karena film transisi, maka ceritanya harus dimulai dari perkembangan kisah cinta beda dunia antara Bella dan Edward. Pasangan ini harus berpisah (untuk sementara waktu) karena Edward ingin melindungi Bella dengan tidak berada di sebelahnya. Inilah beda logika cinta dari seseorang yang berusia 109 tahun dengan 18 tahun.

Seperti film cinta yang lain, Bella menghadapi kebimbangan di masa kosongnya yang kelam. Jacob kemudian perlahan masuk menggantikan Edward. Porsi film yang diberikan untuk menggambarkan kehancuran cinta Bella terlalu panjang, ini adalah waktu di mana kami sempat menyesal mengapa harus memaksakan diri nonton New Moon demi agar merasa tidak ketinggalan.

Penyesalan kami sempat berlarut-larut sampai Bella harus pergi ke Itali untuk menyusul Edward yang menyerahkan diri ke dewan vampir dunia, yang disebut Volturi. Baru di sini, kami melihat ada dunia vampir yang lain selain dunia vampirnya Edward yang menye-menye. Volturi adalah sosok vampir yang kami harapkan, gelap dan kelam. Akhirnya Twilight Saga menunjukkan sinyal film berikutnya akan menuju ke area yang lebih gelap, plus kisah percintaannya yang seharusnya menjadi lebih dewasa.

Penghujung film yang membuat penasaran penonton memberi kami jalan, bahwa di film berikutnya bisa dinanti konflik yang lebih tajam antara manusia, kumpulan serigala jejadian, vampir baik dan Volturi. Dan di film terakhir, yang ke-empat, kami berharap dapat menemukan puncak dari konflik ini dan tentu saja akhir dari kisah cinta. Kehadiran Volturi yang menjanjikan akan hadir di sekuel berikutnya, membuat kami ingin menonton sekuelnya sampai habis. Bahkan kami sempat melupakan dan memaafkan adegan pertama pemunculan Edward turun dari Volvonya mendekati Bella dengan slow motion, raut muka Bella yang tidak ada bedanya kala di sebelah Edward atau pun Jacob atau waktunya keduanya tidak ada, dan adegan lari pasangan Edward dan Bella dalam gerak lambat yang kami kira hanya muncul di film Indonesia 70-an. Eh belum lupa ding. Ini adalah adegan yang bisa kami tertawakan sepanjang hidup kami.

Not-so-pink Chick

Wednesday, December 2, 2009

Review Film: Ninja Assasin


Singkatnya, cerita dalam Ninja Assasin terlalu parah. Seorang ninja tang AWOL dari kelompoknya berencana untuk menjatuhkan kelompoknya. Dia punya rencana untuk mengikutsertakan pihak lain yang tertarik dengan cerita ninja, untuk bekerja sama membongkar kelompok pembunuh yang bagaikan legenda urban. Tapi kenyataannya, pihak lain tidak terlalu membantu amat tuh. Jadi kalau ada orang yang masuk bioskop dengan berharap mendapatkan cerita, maka orang itu adalah orang paling jenius di dunia.

Dari segi akting, tidak ada yang bisa diandalkan. Skenario yang mengharuskan para pemerannya untuk berdialog dalam kalimat-kalimat pendek, justru memang dibuat untuk memberi ruang lebih luas bagi pameran aksi membunuh.

Rain adalah daya pikat bagi penonton yang ingin menyaksikan wajah Asia ganteng yang pemutaran film ini pas dengan jadwal konser dia di Jakarta. Apalagi sempat ada adegan Rain mempertontonkan tubuhnya yang bebas dari lemak.

Mari sekarang kita masuk ke bagian paling asik dari film ini. Adegan pembukanya memberikan peringatan kepada penontonnya bahwa akan banyak darah tumpah di layar. Kematian demi kematian beruntun di depan mata seperti menggambarkan lirik mutilasi dari band Cannibal Corpse.

Aksi baku hantam yang muncul tiap lima menit adalah hiburan sebenarnya. Perkelahian adu pukulan, tendangan dan senjata khas ninja nampak keren. Sutradara dan koreografi perkelahian habis-habisan memeras otaknya untuk membuat adegan perkelahian di Ninja Assasin bagaikan The Matrix kelas B.

Bayangkan film cult American Ninja yang menjadi trademark aktor Michael Dudikoff dibuat ulang dengan mengganti adegan perkelahian menjadi aksi yang lebih memuaskan mata.

Old Skuller

Monday, November 23, 2009

Review Film: 2012

OK, kami menjilat ludah sendiri demi atas nama pergaulan. Kami sepakat untuk tidak ikut mengantri di penayangan spesial lanjutan Twilight, yaitu New Moon yang diputar di empat studio EX XXI di Jakarta, dengan seluruh empat studionya. Pertama karena Tidak ada yang bersedia mengantri, sementara temannya yang lain berjalan-jalan di sekitar Mal, dan kedua tidak ada yang mau disalahkan kalau akhirnya perjuangan mengantri tidak menghasilkan tiket di tangan. Akhirnya kami menonton 2012.

Sebagai langkah awal, karena kami sudah mendengar berbagai cercaan terhadap 2012, kami menyetel ulang ekspektasi. Kami tidak ingin menonton film yang bagus. Misinya singkat, selama dua jam, hiburlah kami.

Penjelasan-penjelasan pendek yang ditebarkan sepanjang film, mengenai mengapa dunia tiba-tiba hancur, tidak terlalu kami hiraukan. Kunyahan pizzza kami lebih lezat daripada kemalasan penulis skenario yang tidak berusaha membuatnya lebih sains.

Kemudian kita langsung meloncat ke frame di mana bumi mulai bergonjang-ganjing. Secara tidak masuk akal, jagoan kita bersama rombongan keluarganya berhasil meloloskan diri dari keretakan bumi dan letusan besar gunung berapi, menggunakan moda transportasi mobil dan pesawat terbang.

Karena sudah jelas banyak adegan tidak masuk akal, maka kami juga mengesampingkan pemikiran negatif "tidak masuk akal." Hasilnya, kami menikmati ketegangan jagoan kita dikejar-kejar oleh bencana, dan bagaimana dia berhasil lolos dari lubang jarum. Kalau saja terdapat sedikit pikiran "tidak masuk akal, nggak banget," rasa tegang itu tidak akan muncul sekelebat pun.

Mari sekarang kita tinjau efek visualnya. Roland Emerich bukan pertama kalinya membuat film bencana dan 2012 bukan satu-satunya film bencana yang pernah ada di pasar, karena itu penggambaran terbelahnya tanah, gunung meletus dan ombak besar tsunami bukan sesuatu yang baru. Yang membuat kami penasaran adalah bagaimana bentuk bahtera yang dibayangkan oleh Hollywood. Di 2012 diceritakan bahwa umat manusia hampir semuanya tersapu oleh bencana kecuali mereka yang berhasil naik ke bahtera. Bahtera rekaan Hollywood berbentuk seperti Titanic versi kapal batu. Gelombang besar yang melanda dunia berhasil ditaklukkan Hollywood dengan kapal sekeras karang.

Sebagai film hiburan, jangan terlalu anggap serius film 2012. Jangan terlalu dipikirkan apakah terdapat pesan subliminasi pada film tersebut. Pada akhirnya jangan terlalu anggap serius pro dan kontra terhadap film ini. Semuanya adalah keberhasilan publisis film 2012.

Old Skuller

Monday, October 5, 2009

Review Film: Surrogates


Menceritakan tema berat lewat medium film bukanlah upaya yang gampang. Level yang paling berat dalah menyampaikannya dengan gaya seringan mungkin agar penonton mudah mengunyahnya. Sedangkan level yang paling mudah adalah berpanjang-panjang menjelaskan semuanya dengan resiko penonton mati bosan.

Surrogates sendiri sebenarnya memiliki tema yang berat. Tapi tuntutan industri membuatnya limbung berada di tengah antara menjelaskan sedetil mungkin dengan menampilkannya secara ringan. Plus agar lebih menarik, dibuatlah aksi-aksi yang diharapkan membawa ketegangan. Kebayang bagaimana sulitnya kan?

Tema dari Surrogates bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Film yang diadaptasi dari komik grafis ini menceritakan bahwa di masa depan orang-orang online di rumahnya untuk mengendalikan robot pengganti yang melakukan segala aktivitasnya di luar rumah.Mirip dengan kondisi saat ini yang memainkan Second Life bukan? Karena yang melakukan segalanya adalah robot, maka resiko kecelakaan terhadap individu semakin kecil, karena kerusakan yang terjadi pada robot tidak berdampak pada pemilik robot. Sampai kemudian muncul senjata pembunuh robot sekaligus pemiliknya.

Tetapi tema sebenarnya dari Surrogates bukanlah aksi tembak-tembakan dan kejar-kejaran memburu senjata pembunuh, tetapi kepada rasa kemanusiaan yang hilang karena segalanya digantikan oleh robot. Tema besar ini datang silih berganti dengan adegan aksi. Cerita menjadi semakin rumit dengan adanya skenario konspirasi dari masing-masing kubu yang menghendaki robot tetap ada dan kubu yang menghendaki robot dihilangkan dari muka bumi.

Karena serba tanggung, yang terlihat di layar adalah debat tema besar yang tidak membekas dan aksi yang tidak terlalu memberikan decak kagum. Film hanya berhasil menarik minat pada awal-awalnya saja saat memperlihatkan budaya robot dan bagaimana secara misterius robot dan pemiliknya dibunuh. Selanjutnya film terjebak menjadi film bertema konspirasi yang terlalu banyak cabangnya.

Walaupun secara keseluruhan masih menarik, tetapi Surrogates adalah film yang bisa dilewatkan.

Hip Master

Monday, July 13, 2009

Review Film: Transformers - Revenge Of The Fallen


Lebih luas, lebih besar, lebih banyak. Yeah! Kalau masih komplain juga, kalian adalah manusia serakah yang tidak ada puas-puasnya. Michael Bay telah bersusah payah mengaransemen akting manusia biasa berpadu dengan CGI. Paling tidak, beri dia sedikit penghargaan.

Sekuel kedua Transformers layar lebar ini menggeber keseruan habis-habisan dari awal sampai akhir. Banyak ledakan akibat perang Autobot dan Decepticon di bumi yang terus berlangsung. Varian robot baru bermunculan, sampai puncaknya beberapa robot Decepticon bergabung menjadi satu robot tinggi besar.

Manusia yang menjadi peran pembantu, seperti film Michael Bay sebelumnya, terus berkeringat berkejar-kejaran terancam nyawanya oleh pihak Decepticon. Masih khas dari Michael Bay, film ini menjadi semakin epik dengan adegan slow motion, bukan hanya manusia betulannya, pertarungan robot pun dibuat koreografer cantik (walau kadang membingungkan karena terlalu cepat) dalam adegan lambat.

Sampai sini, masih ingin cerita? Tidak penting lagi. Yang penting seru. Dua jam lebih para robot dan manusia bertarung. CGI, eksplosif, mobil eksotis, motor cepat dan Megan Fox tidak bisa ditandingi.


Buat mereka yang memberi komentar miring, mengenai cerita usaha kembali menghidupkan Optimus Prime dengan usaha Decepticon menguras matahari sebagai sumber energi, terlalu dipaksakan untuk mengeluarkan aksi, seharusnya mereka tidak perlu duduk selama itu di bioskop hanya untuk mengetahui bakal ada sekuel ketiganya. Aksi seru menghibur kami. Tidak usah banyak omong lagi.


Hip Master

Monday, July 6, 2009

Review Film: Garuda Di Dadaku


Penonton yang datang ke bioskop untuk menonton film ini adalah mereka yang punya mimpi sepakbola Indonesia akan semakin lebih baik, termasuk Old Skuller. Di tengah minimnya prestasi sepakbola di skala internasional dan carut-marut kompetisi nasional, film ini dipersembahkan untuk sepakbola Indonesia.

Dengan mimpi seperti itu, maka penonton memaafkan ketika beberapa adegan berjalan tersendat dan bahkan membuahkan tawa walaupun tidak sedang melucu. Penonton sadar bahwa mereka sedang menonton mimpi mereka sendiri. Usaha sutradara menggambarkan mimpi sebagian besar rakyat Indonesia layak untuk dihargai.

Penuturan yang tertata dengan diselipi informas satu demi satu mengantar Bayu, bocah berusia 12 tahun, ke seleksi tim nasional under 13. Untuk mempelihatkan bahwa kita masih punya harapan, Bayu akhirnya menyandang garuda di dadanya.

Satu pelajaran penting tanpa harus menggurui bahwa tidaklah dosa untuk bermimpi. Adalah wajib untuk mengejar mimpi. Film yang memelihara mimpi dan mengilham seperti ini harus dibuat lbih banyak di sini.

Old Skuller
 

Copyight © 2009 Live@Loud. Created and designed by