Tuesday, March 2, 2010

Layar Perak: Poster Bisa Saja Menipu


Poster film di Indonesia sudah mengalami banyak kemajuan. Poster yang berfungsi untuk menghantarkan imajinasi calon penonton kepada film yang akan ditonton kini dibuat dengan lebih serius. Tidak hanya dengan mengambil satu adegan kemudian ditempelkan judul untuk dibuat posternya, pembuatannya sudah sampai harus dibuat khusus terlepas dari shootingnya sendiri.

Atas keseriusannya, maka poster film Indonesia, termasuk dengan judul horor seronok, semakin enak untuk dilihat mata. Walaupun ada yang mencari borok dari poster film Indonesia dengan membandingkan kesamaannya dengan poster lain dari film di luar negeri, perkembangan seharusnya tetap berjalan.

Saking bagusnya poster yang mengiringi film, ada kemungkinan calon penonton akan tertipu. Sekilas ketika melihat poster film Affair terbitan dari Starvision, sempat hati ini ingin meneruskan untuk menontonnya. Kemudian dari poster ini pulalah terungkap kalau sutradaranya adalah Nayato siapa lah begitu. Keraguan langsung datang tanpa dapat dibendung.

Gambar seorang wanita dengan memegang pisau berdarah dan badannya juga meninggalkan jejak darah sunguh memberikan imajinasi liar akan suguhan tontonan berdarah dalam film. Sudut pengambilan dan pencahayaan yang baik juga membuat berpikir kalau film ini semustinya punya kualitas yang sama.

Menengok trailernya, langsung saja keraguan ini terbukti. Nayato siapalah begitu tidak bisa lepas dari gaya editing MTV. Seperti tidak ada cara editing lain di dunia ini yang bisa membuat penonton untuk tertarik datang. Kesan yang didapat dari poster dan dari trailer juga sungguh berbeda. Kalau di poster kesan yang didapat tidak ada hantu-hantuan, hanyalah manusia yang buta karena cinta sehingga sanggup membantai, sedangkan di trailer kesan yang didapat adalah film aneh dengan hantu penasaran. Langsung diputuskan saat itu juga. Walaupun poster bagus tapi trailer tidak saling mendukung, film ini sebaiknya dilewatkan saja.




Ehm sebenarnya sejak tahu film ini sutradaranya siapa, keputusan untuk tidak nonton langsung terjadi. Urusan selanjutnya menonton trailernya hanya agar kelihatan lebay saja.

Not-so-pink Chick

Hidup Gaya: Datang Ke Konser Untuk Ditonton


Hanya ada di Indonesia. Kok ya ada menikmati musik genre tertentu dan datang ke pertunjukan atau festival dengan genre tertentu bisa menaikkan status. Padahal dari awal musik dibuat sampai sekarang, rasanya tidak ada keinginan dan maksud untuk menaikkan derajat seseorang karena menikmati musik. Pasti yang menulis lagu juga menginginkan lagunya didengar dan dinikmati oleh lebih banyak orang tidak hanya di kalangan tertentu saja. Kalau bisa begini enak dong. Dengar musik anu jadi terkesan dewasa, nikmati musik ini jadi dianggap keren. Wuih gampang banget orang tertipunya.

Jazz adalah makhluknya. Setiap mendengar kata jazz, orang langsung akan membayangkannya sebagai musik elit yang menawarkan kesempurnaan dalam bertutur nada. Karena sempurna maka tidak banyak orang yang memahaminya, hanya kalangan elit saja yang sanggup mencapainya. Karena itu, festival tahunan jazz yang mengumpulkan penampil jazz terbaik di muka bumi dengan penggemarnya dapat menyedot rombongan lain yang ingin terlihat menikmati jazz.

Sebutlah ada satu atau dua event besar jazz di Indonesia tiap tahunnya dan salah satunya memberikan sensasi ingin dilihat oleh orang lain. Dari ribuan orang yang datang ke festival terdapat segerombolan orang yang datang dengan tujuan yang lain. Sementara yang lain asik menikmati musik yang dihantarkan ari atas panggung, gerombolan ini kurang peduli dengan musik yang disajikan.

Tujuan utamanya bukanlah panggung. Yang mereka cari adalah status been there, sehingga statusnya terangkat ke permukaan sebagai golongan yang terbaik dari golongan-golongan yang lain. Masih mending kalau mereka berusaha untuk menikmati musik yang ada, masalahnya adalah kunjungan ritual ini menjadi gaya hidup.

Adanya Facebook dan Twitter sangat menunjang perilaku seperti ini. Foto-foto bisa disimpan di album Facebook. Atau kalau tidak sabar, foto dan status bisa secara bebarengan diupload ke Twitter. Dengan foto sebanyak itu dan update status sesring itu, apakah mungkin mereka menikmati musiknya. Tidak mungkin. Kami sudah perna mencoba untuk melakukan update status di setiap lagu, yang hasilnya kami jadi tidak terlalu mempedulikan apa yang ada di atas panggung. Musik jadi tidak bisa dinikmati.

Entah apa yang membuat mereka lebih tertarik untuk mendatangi event jazz dibandingkan dengan musik yang lain. Kalau untuk berpesta, masih ada event-event lain yang benar-benar mendukung. Sedangkan jazz menurut kami hampir sama dengan rock dan metal. Penonton beneran yang datang lebih bertujuan untuk menikmati.

Menonton konser rock dan metal lebih banyak berkeringat, sedangkan menonton jazz lebih kalem sehingga parfumnya masih tetap wangi sampai pulang. Mungkin karena ini orang-orang lebih suka pergi ke acara jazz. Karena kalau ingin wangi sampai pulang dan bisa berbaur wanginya dengan mulus ke kelompok orang yang lain, inilah tempatnya.

Sebenarnya kami juga tidak terlalu peduli dengan gerombolan ini. Selama mereka masih ada untuk membeli tiket dan memberi keuntungan buat promotor sehingga bisa semakin sering mengadakan pertunjukan, kenapa harus dimusuhi? Nikmati sajalah pertunjukannya.

Not-so-pink Chick

Video Not Dead Yet: Orianthi - Highly Strung ft. Steve Vai



Kami sampai berbusa-busa membicarakan Orianthi. Enak dipandang dan bisa shred. Belum puas dengan video pertamanya, Orianthi tahu persis dia harus benar-benar bisa membuktikan kalau dia bisa bermain gitar. Cara yang paling ampuh adalah mempopulerkan nomor instrumentalnya. Hei...seorang gitaris piawai tidak bisa dibilang gitaris piawai kalau belum punya nomor instumental yang memamerkan kelincahan jari-jarinya.

Penampilan Orianthi terlihat, kata orang Jawa, njomplang kala disandingkan dengan sang dewa gitar. Orianthi begitu serius menangani gitar elektriknya, sedangkan Steve Vai dengan luwes seolah sedang memainkan permen di tangannya. Bahasa tubuh yang disampaikan Steve Vai lebih menarik, apalagi kalau dilihat dari pengalamannya bermain gitar di depan penonton. Walaupun kalah jauh dari segi penampilan, Orianthi masih bisa membuktikan bahwa dia adalah gitaris yang patut untuk diperhitungkan. Perhatikan jari-jarinya yang membuat nafas tertahan. Lihat duet bersahutan yang membuat permainannya terdengar sejajar dengan Steve Vai.

Steve Vai memang lebih jago. Sedangkan Orianthi juga masih punya waktu panjang untuk memperkuat talentanya.

Not-so-pink Chick

Monday, March 1, 2010

Review Film: Up In The Air


Sudah terlalu lama kami terperosok ke dalam liang gelap tak berujung yang berisikan skenario film ya gitu deh dan pengadeganan yang dilebih-lebihkan sehingga terkesan wah. Sampai kami terantuk oleh Up In The Air yang memberi kami kesadaran.

Film dengan gambar yang biasa saja tanpa berusaha melebih-lebihkan ini membenturkan kepala kami ke kenyataan, menjadi dewasa sucks. Terlalu banyak yang dipikirkan sehingga kenyataan manis di ujung hidungnya tidak bisa tercium dan terlalu banyak beban keuangan yang harus ditangung hampir seumur hidup untuk kenyamanan tidur di bawah atap.

Ryan Bingham adalah konsultan pemecat karyawan yang mendapatkan keuntungan dari kondisi kemerosotan ekonomi. Tiap harinya dia terbang dari satu lokasi ke lokasi lain untuk memberikan kabar buruk bagi karyawan. Dia terlalu banyak berpikir, terlalu banyak berencana sekaligus takut menghadapi masa depannya yang sebenarnya cukup jelas. Dengan mempertahankan gaya hidup berpindah-pindah lokasi, hari tuanya akan kesepian. Teman wanita yang ditemuinya saat bersilangan jadwal juga diperlakukan sebagai teman biasa yang tidak ada ikatan.

Di sisi lain tempat duduk saat Ryan mengerjakan tugasnya adalah mereka yang kebingungan bagaimana akan meneruskan hidupnya setelah tidak lagi punya pekerjaan. Tunggakan yang menumpuk akan menghantam mereka menghancurkan hidup.

Dua hal ini yang mencuat di Up In The Air, selain George Clooney yang merajalela memenuhi layar. Secara amat perlahan, penonton dibuat kecut karena film ini menggambarkan ketakutan mereka sendiri secara gamblang. Tanpa harus dibuat menjadi puitis. Beginilah kehidupan. Pilih dengan benar. Wow menjadi dewasa terasa sangat berat.

Walaupun tawa kecil seringkali muncul, tapi tawa yang muncul adalah menertawakan diri kita sendiri. Terasa getir.

Penyajian gambar yang biasa saja membuat penonton semakin ketakutan. Pesan yang disampaikan untuk memilih cinta dan pekerjaan adalah kenyamanan semu terasa mengedor jiwa. Ini hidup mereka sendiri yang terpampang di depan layar dan sekelilingnya gelap.

Satu setengah jam menuju puncak terasa cukup lama. Pada saat penonton ketakutan karena melihat tidak ada solusi, secercah harapan muncul di ujung sana. Hebatnya film ini tidak memberikan apa yang penonton mau. Kalau saja penonton mendapatkan keinginan mereka, niscaya film ini akan menjadi salah satu dari deretan film biasa yang lain.

Up In The Air menjadi tidak biasa karena peringatannya sangat keras membuat kita untuk terbangun dari tidur panjang. Film yang pasti akan kami tinggal dalam 15 menit pertama kalau ditonton lewat DVD ini sayang untuk tidak diteruskan sampai akhir. Karena di ujung film, justru kita mendapatkan banyak bahan untuk dibicarakan setelahnya. Termasuk betapa senangnya kami punya Live@Loud yang tidak bisa memecat kami sendiri.

Not-so-pink Chick

Tech & Ent: Apakah Mereka Mendengar Kicau Burung?


Setelah demam Facebook, Indonesia kini terkena demam Twitter. Dengan 140 karakter saja, pesan kita sampai ke semua follower dan kalau dinilai cukup menarik, maka pesan tersebut akan diteruskan ke follower yang lain.

Bukti kalau Twitter sedang tren di Indonesia adalah untuk beberapa kali topik yang berbau lokal sempat menjadi trending topic, apalagi yang berkaitan dengan bencana dan kematian. Satu tweet dari orang luar sana sempat mampir menanyakan kenapa tiap ada bencana di Indonesia kemudian bisa jadi trending topic? Ternyata tidak juga. Sempat ada beberapa topik yang gak penting-penting amat, sama sekali tidak informatif, juga masuk ke trending topic. Ini memperlihatkan wajah para pengicau burung di Indonesia, bahwa tweet yang menarik berkisar pada sesuatu yang maha penting seperti bencana dan sesuatu yang sama sekali tidak penting seperti tebak-tebakan nama artis.

Ternyata kicau burung Indonesia kini sudah melangkah lebih jauh. Mereka membangun suatu fans base yang kemudian diteruskan ke artis yang mereka sukai. Banyak di antara account Twitter fans base ini menggalang masa untuk membuktikan bahwa para penggila artis tersebut siap menyambut kedatangan, alias mereka menggelar konser. Tanpa lelah mereka berkicau untuk meminta artis datang ke Indonesia.

Mari kita mengesampingkan peran promotor dalam mendatangkan artis luar ke Indonesia. Agar mereka datang ke sini, maka perlu perantara yang menyiapkan segala kebutuhan artis akan panggung yang layak serta tentu saja akomodasi yang nyaman.

Tweet para penggemar sebenarnya juga punya peran penting dalam mendatangkan artis luar negeri. Dari jumlah pengikut bisa diperkirakan berapa banyak yang mau mengeluarkan uang untuk menonton konser. Hitungan bisnis mulai berjalan di sini. Kalau jumlahnya dianggap cukup layak, maka peluang artisnya datang akan semakin besar.

Selanjutnya artis bisa menawarkan diri ke promotor, apakah mereka bisa naik panggung di Indonesia. Kalau promotor tertarik, maka hubungan bisa berlanjut.

Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelum era web 2.0. Jejaring sosial membuat komunikasi semakin transparan serta dapat menjerit sekuat tenaga. Jeritan tersebut akan sampai ke target, tapi masalahnya apakah mereka akan mendengarnya.

Dengan berjubelnya kicauan burung tiap hari, bisa jadi teriakan akan terlewat begitu saja. Tapi kalau kuantitasnya banyak, peluang juga seharusnya semakin besar. Siapa tahu Twitter sedang tersenyum dan membuat penggemar di Indonesia lebih beruntung.

Not-so-pink Chick

Gig Gossip: Panjang Artis Luar dengan Artis Dalam Hampir Sama


Cek halaman daftar artis yang akan naik panggung di Java Jazz Festival. Panjang daftar artis luar sedikit lebih pendek, atau hampir sama panjang dengan artis lokalnya. Dan jumlahnya bukan dalam satuan tapi dalam ratusan.

Ini memperlihatkan beberapa hal:
1. Java Jazz Festival adalah festival terbesar di Indonesia
2. Festival ini memasukkan line-up yang seimbang antara penampil luar dan lokal
3. Kalau melewatkan festival ini maka akan kelihatan tidak gaul

Walaupun terlihat terseok-seok dalam memasukkan line-up ke dua festival lainnya, Java Jazz Festival adalah event yang Peter F. Gontha tahu benar. Dari tahun ke tahun, artis yang didatangkan baik dari luar maupun lokal semakin gagah saja. Keseimbangan antara luar dan lokal membuat banyak panggung dapat terisi lebih padat, sehingga sedikit kemungkinan menyisakan panggung yang kurang penonton.

Gosip sudah beredar, tahun depan, sang dewa gitaris latin, Santana, akan unjuk gigi di event paten ini. Kami tunggu. Untuk minggu ini nikmati saja buaian jazz dan pop tanggal 5, 6 dan 7 Maret di Kemayoran yang jauh dan sulit dicapai.

Old Skuller

Video Not Dead Yet: Iyaz - Replay



Tidak cuma satu, tapi ada dua video klip dengan lagu yang sama. Hebatnya lagi, video klip yang dibuat berikutnya adalah prequel dari video klip sebelumnya. Bingung? Industri musik dan uang bisa membuat segalanya mungkin.

Sampai awal Maret ini, Replay dari Iyaz adalah lagu paling catchy untuk tahun ini. Lagu ini layak untuk dibawa sebagai persiapan pesta dan menaikkan mood. Tidak ada yang salah di lagu ini, walaupun banyak elemen cheesy di dalamnya. Karena mudah dinyanyikan dan tidak terlalu memalukan, maka kejelekannya termaafkan.

Kembali ke video klip. Video klip pertama bagaikan anak yang tidak mau dilahirkan. Berhubung lagunya melejit menjadi hit, maka diperlukan suatu bahan jualan yang lebih baik. Efek visual yang diperlihatkan memampukan touch screen di udara dihilangkan. Bagian Iyaz bernyanyi di depan layar hijau dengan bendera berkibar sebagai gambar yang dimasukkan juga dihilangkan. Tentu saja ini adalah pilihan yang gampang, karena dua bagian ini adalah bagian yang membuat kita malas untuk melihat kembali video klipnya.

Video klip prequel, namanya juga prequel, menitikberatkan pada sisi romantisme menjalin asmara di lingkungan pantai. Memberi kesempatan lebih banyak untuk memperlihatkan kulit. Video klip prekuel memberi harapan lebih laku berjualan daripada yang pertama. Kalau sudah begini, siapa berani bilang prequel lebih buruk dari orisinalnya?


Replay

I Y A Z | MySpace Music Videos


Hip Master

Gig Gossip: Tiket Diskon Misfits Mulai Dijual Hari Ini


Bukan lewat cara resmi-resmian, Solucites berkicau bahwa tiket Misfits yang akan berlangsung tanggal 10 April di arena Dome Pantai Karnaval Ancol sudah bisa mulai dibeli dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga biasa.

Menggunakan trik yang sama seperti Adrie Subono dalam menjual tiket lebih awal, tiket bisa dibeli dengan mengeluarkan uang Rp 100 ribu saja. Jumlah tiket yang dibandrol dengan diskon lebih dari 50 persen ini disebut-sebut hanya dalam jumlah yang sangat terbatas. Setelah jumlah terbatas habis, harga tiket akan naik menjadi Rp 175 ribu.

Walaupun mencontek habis trik Adrie Subono, tetapi Solucites harus kerja lebih keras untuk mengumpulkan followernya di situs burung berkicau. Pagi ini kami cek pengikut Solucites masih di angka 350-an, sedangkan Adrie Subono sudah mencapai 89 ribuan. Setelah follower cukup banyak dan turut aktif, barulah kicau burung menjadi lebih efektif.

Tetapi posting ini tidak bicara tentang teori pemasaran di jejaring sosial. Ini tentang Misfits yang akan menghancurkan Jakarta sampai luluh lantak. Jadilah bagian dari penghancuran ini dengan segera berada di antrian terdepan tiket diskon sebelum harga reguler di Jl. Ciranjang No. 9 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Tiket juga bisa dibeli secara online. Maksudnya bagi yang tidak tinggal di Jakarta dan tidak bisa ikut mengantri, bisa kirim tweet ke temannya di Jakarta buat nitip dibelikan tiketnya.

Old Skuller
 

Copyight © 2009 Live@Loud. Created and designed by